Archive for 2016
TIMUN MAS
By : Yusuf Aldy Primadana
TIMUN MAS

Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.
Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali.
Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata,
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.
Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata,
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji.
Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya.
Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.
Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.
Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.
Cerita Rakyat “Timun Emas” ini diceritakan kembali oleh Kak Ghulam Pramudiana

Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.
Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali.
Hei, mau kemana kamu?, tanya si Raksasa.
Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat, jawab mbok Sarni.
Hahahaha…. kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab,
Tetapi aku tidak mempunyai anak.
Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata,
Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun.
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.
Cerita Timun Mas
Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat
gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa
selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata,
Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi.
Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu, perintah petapa. Kemudian timun meas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji.
Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab,
Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar.
Mana anak itu? Mana timun emas?, teriak si raksasa.
Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya.
Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!, teriak timun emas.
Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.
Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.
Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.
Cerita Rakyat “Timun Emas” ini diceritakan kembali oleh Kak Ghulam Pramudiana
BAWANG MERAH DAN BAWAH PUTIH
By : Yusuf Aldy Primadana
BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH
Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.
Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.
Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.
Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.
Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.
Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.
Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.
“kELINCI DAN bERUANG”
By : Yusuf Aldy Primadana
“kELINCI DAN bERUANG”
Suatu hari, hiduplah seekor beruang dan
kelinci. Kelinci adalah penembak yang baik. Sebaliknya, beruang selalu canggung
dan tidak bisa menggunakan panah untuk menembak.
Suatu hari, beruang yang di sebut di
atas kelinci dan meminta kelinci untuk mengambil busur dan anak panahnya.
Karena dia takut untuk membangkitkan kemarhan beruang, ia tidak menolak
tantangan. Dia pergi dengan beruang dan menembak kerbau.Dia menembak dan
membunuh begitu banyak bahwa daging yang tersisa setelah.
Namun beruang tidak membuat kelinci
mendapatkan daging. Bahkan dia tidak bisa merasakannya. Kelinci miskin pulang
lapar setelah seharian bekerja keras.
Untungnya, anak bungsu dari beruang itu
sangat baik untuk kelinci. Ibunya beruang selalu memberinya sepotong extra
besar daging tetapi dia tidak makan semuanya. Ia mengambil beberapa luar dengan
dia dan berpura-pura untuk bermain bola dengan aging. Dia menendang bola daging
menuju rumah kelinci. Daging terbang kerumah kelinci. Dengan cara ini, kelinci
lapar mendapatkan makanannya.
GAJAH DAN TIKUS
By : Yusuf Aldy Primadana
“GAJAH DAN TIKUS”
Pada suatu hari,
seekor Gajah keluar dari rumahnya. Ia ingin pergi untuk berjalan-jalan untuk
menghirup udara segar dan melemaskan otot-ototnya yang kaku. Namun, di tengah
perjalanan. Ia bertemu dengan seekor Tikus kecil yang menjual bunga. Sang Tikus
pun menawarkan dagangannya kepada Gajah dengan ramah.
Gajah pun tertarik.
Bunga yang di tawarkan Tikus sangat indah dan cantik. Warnanya yang kuning
lembut dan sangat mekar. Harga bunganya pun sangat murah. Namun, Gajah diam
sejenak dan berpikir tentang bagaimana dengan baunya? Sangat lama Gajah
berpikir dan menatap bunga tersebut. Sang penjual bunga pun melihat bahwa Gajah
tertari dengan daganganya tersebu.
‘’ Bunga ini sangat
harum Tuan! Sangat pantas untuk pengharum ruangan.’’ Kata Tikus mempromosikan
dagangannya.
‘’ Bunga apa ini?’’
Tanya Gajah.
‘’ Ini adalah sebuah
bunga yang sangat ajaib!’’ jawab Tikus.
‘’ Apakah bunga ini
wangi?’’ Tanya Gajah.
‘’ Tentu saja! Bunga
ini sangat harum’’ jawab Tikus.
‘’ Boleh aku
mencobanya?’’ Tanya Gajah penasaran dengan wanginya.
‘’ Tentu saja Tuanku!
Silahkan.’’
Gajah pun
sperlahan-lahan menjulurkan belalainya yang panjang. Ia pun mengirup wangin
bunga ajaib itu. Benar sekali yang di katakan Tikus. Bunga tersebut sangat
wangi. Namun, tidak lama kemudian hidungnya terasa geli dan gatal tidak bisa
tertahan. Hidungnya tiba-tiba akan bersin. Tetapi ia terus menahanya. Karena,
tidak baik bersin didepan orang lain. Namun, hidungnya terus saja terasa geli,
ia terus mencoba menahannya. Akhirnya, tanpa di sadari Gajah engambil ancang-ancang
untuk bersin.
Ia menghirup udara
kuat-kuat melalui mulutnya yang besar. Begitu besar angin yang masuk kedalam
mulutnya. Bahkan, tangkai bunga pun tersedot keluar dari tangkainya. Melihat
ancang-ancang Gajah, Tikus pun bersiap untuk pergi meninggalkan tempat
tersebut. ia berpikir akan terjadi angin topan.
Tiba-tiba, Gajah pun
bersin dengan sangat hebat. Akibat, bersinnya yang hebat itu merusak
rumah-rumah, gentengnya berterbangan seperti di landa angin topan. Tikus pun
terpelanting sangat jauh puluhan meter. Bunga dagangannya pun berserakan
kemana-mana. Karena, bersinnya yang sangat hebat. Gajah pun terjatuh ke tanah
dan bahkan mengeluarkan air mata. Ia melihat semua yang di hadapannya rusak
akibat bersinnya tersebut. ia merasa sangat bersalah dan menyesal. Namun, itu
semua bukan keinginannya.
Cerita Rakyat Fabel
Dongeng Gajah dan Tikus
Cerita Rakyat Fabel
Dongeng Gajah dan Tikus
Gajah hanya diam
sambil menatap semua kerusakan. Tiba-tiba, datanglah seekor Badak, ia
bertingkah seperti seorang polisi dan melihat kejadian tersebut. Melihat Badak
datang, Tikus pun timbul keberaniannya. Ia segera berlari-lari menghampiri
Gajah.
‘’ Hei Tuan! Kau harus
mengganti kerugianku. Lihatlah! Bunga-bunga daganganku semua berhamburan dan
hancur. Aku akan adukan kau kepada Badak.’’ Bentak Tikus marah.
Gajah hanya diam. Ia
merasa sangat merasa bersalah.
‘’ Tenanglah, aku akan
mengganti semua kerugianmu.’’ Kata Gajah dengan lembut.
Badak pun mengampiri
Gajah dan Tikus.
‘’ Lihat akibat
perbuatanmu!’’ bentak Badak dan menunjuk ke arah rumah-rumah yang rusak.
‘’ Iya, itu salahku!’’
kata Gajah mengakui kesalahannya.
‘’ Bunga-bungaku
semuanya rusak. Aku meminta ganti rugi.’’ Bentak Tikus.
Sebenarnya Gajah
sangat marah kepada Tikus. Karena bunga yang ia jual. Akibatnya malah kacau
balau. Tetapi ia menahan kemarahannya.
‘’ Apa benar yang
dikatakan Tikus?’’ Tanya Badak.
‘’ Tidak! Saya tidak
merusaknya dengan sengaja!’’ jawab Gajah.
‘’ Bagaimana rumah itu
bisa hancur? Dan bunga-bunga yang Tikus jual berserekan kemana-mana?’’ Tanya
Badak
‘’ Saya hanya bersin
Tuan!’’
‘’ Bersin? Hanya
karena bersin rumah-rumah ini hancur?’’ Tanya Badak tidak percaya.
‘’ Saya hanya mencium
bunga yang di jual Tikus.’’ Jawab Gajah dan menunjuk bunga-buga yang
berserakan.
‘’ Hmm, bunga siapa
itu?’’ Tanya Badak.
‘’ Itu adalah bunga
Tikus!’’
Badak pun melihat ke
arah Tikus. Tiba-tiba, Tikus berubah menjadi gelisah. Badak pun mengerti bahwa
ini bukan kesalahan Gajah seorang. Akhirnya, badak yang bertingkah menjadi
polisi tersebut menengahi Gajah dan Tikus.
Akhirnya, Tikus pun
meminta maaf karena sudah menjual bunga ajaib yang menjadi malapetaka tersebut.
Gajah pun merasa bersalah, karena bersinnya tersebut mengakibatkan kerusakan
yang sangat besar dan merugikan orang lain. Badak pun melanjutkan perjalanannya
setelah menjadi polisi. Mereka berdua mengakui kesalahannya dan semenjak itu.
Gajah dan Tikus berteman baik. Semua itu berkat bunga ajaib.
Pesan moral dari
Cerita Rakyat Fabel : Dongeng Gajah dan Tikus adalah akui kesalahanmu sendiri.
Jangan berbohon dan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang telah kamu buat.
“Monyet Cerdas dan Buaya Kusam”
By : Yusuf Aldy Primadana
“Monyet Cerdas dan Buaya Kusam”
Suatu
hari ada monyet. Dia ingin menyeberang sungai. Di sana ia melihat buaya
sehingga ia meminta buaya untuk membawanya di sisi lain sungai. buaya setuju
dan mengatakan monyet untuk melompat di punggungnya. Kemudian buaya berenang di
sungai dengan monyet di atas nya.
Sayangnya,
buaya itu sangat lapar, ia berhenti di tengah sungai dan berkata kepada monyet,
"Ayah saya sangat sakit. Dia harus makan jantung monyet. Jadi dia akan
sehat kembali. "
Pada
saat itu, monyet itu dalam situasi berbahaya dan ia harus berpikir keras.
Kemudian ia memiliki ide yang baik. Dia mengatakan kepada buaya berenang
kembali ke tepi sungai. "Apa?" Tanya buaya. "Karena aku tidak
membawa hati saya," kata monyet. "Aku meninggalkannya di bawah pohon,
dekat beberapa kelapa di tepi sungai."
buaya
setuju dan berbalik. Ia berenang kembali ke tepi sungai. Begitu mereka tiba di
tepi sungai, monyet melompat dari punggung buaya. Kemudian dia naik ke atas
pohon.
"Dimana
hatimu?" Tanya buaya. "Kau bodoh," kata monyet untuk buaya.
"Sekarang saya bebas dan saya memiliki hati saya."
-
See more at:
http://nandaaryunita48.blogspot.co.id/2016/03/the-smart-monkey-and-dull-crocodile.html#sthash.5KLR321W.dpuf
By : Yusuf Aldy Primadana
“Ular dan Katak”
Zaman dahulu kala, di kerajaan, hiduplah
seekor katak yang indah. Dia adalah anak dari raja katak. Setiap hari, dia
selalu menghabiskan waktunya di depan cermin. Suatu hari, dia jatuh bosan jadi,
dia pergi ke hutan. Dia pergi ke sana sendirian. Ketika dia tiba di hutan, ia
melihat sebuah sungai murni yang banyak bunga di sini dan kemudian dia
mengambil beberapa bunga.
Dan saat yang sama, datang seekor ular
yang memiliki kaki yang kuat. Ia kagum dengan katak yang indah dan kemudian dia
menunjukkan otot dan katak nya jatuh cinta dengan ular. Akhirnya mereka saling
mencintai. Tapi, di tempat lain, raja katak mengadakan kontes untuk mencari
untuk menjadi suami dari putrinya. Raja katak mengatakan "siapa yang cepat
dalam berjalan, dia akan mendapatkan anak saya". Segera semua hewan,
mempersiapkan bergabung dengan kontes seperti mouse, kalajengking, laba-laba
dan termasuk ular.
Suatu hari, ketika ular itu pelatihan,
dan merasa kecewa karena dia tidak bisa berlari sangat cepat. Dia langsung
pulang. Pada malam hari, ia bermimpi tentang pertemuan dengan orang tua. Orang
tua itu memberitahu untuk memotong kakinya. Jadi, dia bisa berlari sangat
cepat. Akhirnya, ia bisa berlari sangat masa lalu dan menjadi juara. Tapi dia benar-benar
kecewa apa yang lakukan katak berkata "Aku tidak suka Anda, karena Anda
tidak memiliki kaki yang lain" hati karena kecewa, ia punya rusak dan lari
ke hutan. Dia bersumpah jika ia bertemu katak, ia akan memakannya, itulah
penyebab mengapa ular tidak memiliki kaki dan suka makan katak.
“PUTRI TIKUS”
By : Yusuf Aldy Primadana
“PUTRI TIKUS”
Pada zaman dahulu
kala, di sebuah kerajaan hiduplah seorang Raja dengan ketiga Putranya. Ketiga
Putranya kini sudah tumbuh menjadi dewasa. Karena ketiga Pangeran sudah dewasa,
Raja sangat berharap mereka segera menikah.
Suatu hari, Raja
menyuruh ketiga Pangeran untuk pergi mengembara. Dengan begitu mereka dapat
mencari seorang istri. Akhirnya, Pangeran sulung, meminta restu sang Raja.
Namun, di tengah perjalanan. Pangeran Sulung melihat seekor Tikus. Tikus
berlari kesana kemari, Tikus itu terlihat berbeda dari Tikus lainnya. akhirnya,
Tikus berlari menghampiri kaki Kuda yang di naiki Pangeran Sulung, Pangeran
Sulung berusaha supaya Kudanya tidak menginjak si Tikus, namun, Tikus tidak mau
pergi.
‘’ Hei, Tikus.
Pergilah! Jangan sampai kau, di injak oleh Kudaku!’’ teriak Pangeran Sulung.
‘’ Jangan injak aku
Pangeran tampan. Ajaklah aku ke Istana, dan jadikan aku tunanganmu.’’ Kata si
Tikus.
Cerita Dongeng Anak
Dunia Legenda Putri Tikus
‘’ Hahaa. Apa yang kau
katakana? Aku harus membawamu dan menjadikanmu sebagai tunanganku? Itu tidak
mungkin.!’’ Jawab Pangeran Sulung, ia langsung pergi dan mempercepat kudanya.
Tidak lama kemudian,
Pangeran Sulung memberikan kabar ke pada Raja, ia sudah bertemu dengan Putri
cantik dari kerajaan tetangga. Setelah mendapat kabar baik, Pangeran Kedua
langsung pergi mengembara. Sama persis seperti Pangeran Sulung, ia bertemu
seekor Tikus. Tikus memohon untuk di jadikan tunangannya. Pangeran Kedua tidak
meghiraukan dan langsung pergi dengan cepat. Pangeran Kedua pun berhasil
bertemu dengan Putri dari kerajaan lain.
Akhirnya, Pangeran
Bungsu meminta restu Raja untuk segera pergi mengembara dan membawa Putri
cantik. Namun, di tengah perjalanan ia pun bertemu dengan seekor Tikus sama
seperti kedua kakaknya. Si Tikus pun memohon dengan sangat sedih. Agar Pangeran
Bungsu membawanya ke istana dan menjadikannya sebagai tunangan. Pangeran Bungsu
merasa sangat kasihan melihat si Tikus memohon. Ia bersedia menerima si Tikus.
Tikus, langsung
mengajak Pangeran untuk melihat tempat tinggal yang di huninya. Tikus berlari
mendahului Pangeran Bungsu untuk menunjukkan jalan. Hatinya sangat gembira.
Pangeran Bungsu menaiki Kuda dan mengikuti dari belakang dan sampailah di
sebuah batu yang sangat besar.
‘’ Pangeran, disilah
tempat tinggalku. Tunggulah sebentar’’ kata Tikus masuk kedalam liang kecil.
Pangeran Bungsu sangat
penasaran. Ia langsung turun dari Kudanya dan menghampiri liang Tikus terebut.
Tiba-tiba terpancarlah sinar kearah Pangeran Bungsu. Setelah ia menunggu cukup
lama. Akhirnya, keluarlah si Tikus dan menyerahkan cincinnya kepada Pangeran
Bungsu. Cincin itu sangat indah, Pangeran pun sangat terkejut melihat cincin
yang indah dan belum pernah di lihatnya.
Pangeran Bungsu segera
kembali ke Istananya. Ia pun menunjukan cincin dari Tikus. Namun, ia sama
sekali tidak mau menceritakan dari mana asal Putri yang menjadi pilihannya.
Semua orang dalam istana terkejut melihat keindahan cincin yang ia kenakan.
Cincin kedua kakaknya tidak seindah cincin yang di miliki Pangeran Bungsu.
Setelah beberapa saat. Raja memanggil ketiga Putranya.
‘’ Anak-anakku, aku
ingin ingin sekali memakan roti buatan calon-calon menantuku. Pergilah dan
Tolong sampaikan pesanku ini kepada calon istri kalian!’’ kata Raja.
Pangeran Bungsu sangat
kebingungan. Ia berpikir bagaimana cara Tikus tunangannya membuatkan roti untuk
Raja. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan apa permintaan ayah. Pangeran
Bungsu langsung pergi menemui si Tikus dan memanggilnya. Ia menanyakan apakah
Tikus sanggup membuatkan roti.
‘’ Pangeran, apakah
hanya itu permintaan Raja? Tidak usah khawatir Pangeran, besok pagi roti yang
di inginkan Raja akan aku siapkan.’’
Pangeran segera
kembali ke istana dan sangat berharap Tikus tunangannya benar-benar dapat
membuatkan roti. Keesokan harinya, Pangeran Bungsu segera kembali ke rumah
Tikus. Ia melihat Tikus sudah menunggunya dan roti pesanan Raja. Pangeran
Bungsu segera membawa roti tersebut ke istana.
Raja pun langsung
mencicipi roti buatan calon-calon menantunya. Kedua kakaknya membawa roti yang
rasanya biasa. Namun, Roti yang paling lezat, adalah roti buatan Tikus calon
istri dari Pangeran Bungsu.
‘’ Aku sudah memcicipi
roti buatan calon istri kalian. Sekarang, aku ingin tahu, apakan mereka dapat
membuatkan minuman yang enak untukku.’’ Kata Raja.
Ketiga Pangeran
langsung pergi menemui calon istrinya masing-masing untuk memberitahukan
permintaan Raja yang kedua. Si tikus pun menyuruh Pangeran Bungsu untuk kembali
keesokan harinya. Keesokan harinya Pangeran Bungsu kembali, dan ia melihat
sebuat pot emas dan di hiasi batu-batu mulia, sudah siap. Ketika tutup pot di
buka, terciumlah bau yang sangat wangi dan segar.
Raja pun langsung
mencicipi minuman itu. Namun, Raja tidak pernah minum minuman sesegar dan
seenak buatan si Tikus. Raja sangat bahagia. ‘’ Kalian bertiga, sudah berhasil
mendapatkan calon istri yang baik. Namun, Putra Bungsu tunanganmu lah yang
terbaik. Roti dan minuman buatannya sangat enak.’’ Kata sang Raja.
Akhirnya, Raja meminta
ketiga Putranya untuk membawa calon istrinya ke istana. Raja ingin sekali
melihat wajah calon menantunya.
Pangeran Bungsu pun
mulai kebingungan. ‘’ sekarang, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana mungkin
aku membawa Tikus ke istana.’’ Pangeran Bungsu langsung pergi menemui Tikus dan
mengabarkan untuk membawanya ke istana.
‘’ Tikus, sejujurnya
aku sangat khawatir, bagaimana caranya aku membawamu ke istana.’’ Kata Pangera
Bungsu.
‘’ Jangan khawatir
Pangeran. Semuanya akan berakhir dengan baik. Namun, Pangeran harus menuruti
semua yang aku katakana. Siapkan satu kulit telur, enam ekor kumbang, dan dua
ekor lalat.’’ Jawab si Tikus.
‘’ Ikatka keenam ekor
kumbang pada kulit telur tersebut, kemudia pasangkan ke dua ekor lalat dalam
kulit telur, satu di depan dan di belakangku. Aku akan berada paling belakang,
dan saat aku tiba di istana nanti, tirukan apa yang kedua kakak Pangeran
lakukan kepada calon istrinya. Semuanya akan berakhir dengan baik.’’
Sambungnya.
Pangeran Bungsu
menuruti apa yang dikatakan si Tikus. Hatinya pun sedikit ragu dan khawatir apa
yang akan terjadi. Tidak lama kemudian, Tikus duduk di dalam kulit telur dan
berangkatlah mereka keistana. Pengeran Bungsu melihat kedua kakaknya
menggendong dan mencium calon istrinya. Pangeran Bungsu pun melakukan peris
seperti kakaknya.
Tanpa di duga,
tiba-tiba, seorang Putri cantik berada dalam gendongan Pangeran Bungsu dan
kendaraan yang di naiki Tikus berubah menjadi sebuah kereta indah. lengkap
dengan pengawalnya. Mereka pun masuk ke dalam istana. Semua orang yang berada
dalam istana sangat terpesona melihat kecantikan Putri Tikus. Setelah
mengenalkan calon istri dari ketiga Pangeran. Putri-putri tersebut kembali ke
istana masing-masing.
Pangeran Bungsu
mengantarkan Putri Tikus kembali rumahnya. Batu tempat tinggalnya berubah
menjadi istana yang indah dan megah. Ternyata Putri terkena kutukan penyihir
jahat, sehingga istananya berubah menjadi batu dan ia berubah menjadi Tikus.
Akhirnya, Putri dan
Pangeran Bungsu menikah, dan hidup sangat bahagia.
“CINDELARAS”
By : Yusuf Aldy Primadana
“CINDELARAS”
Kerajaan
Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi
oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang memiliki sifat
iri dan dengki. Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang
sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang
buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra
ingin menjadi permaisuri.
Selir
baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana
tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera
dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan
bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri.
"Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang
tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera
memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.
Sang
Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan
belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri.
Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri
tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri
sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri
pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas ketika sang
patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah
beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak
laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi
seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan
binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor
rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur
itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi
seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan
rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan
kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu
berbeda dengan ayam lainnya. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di
tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...", kokok ayam itu
Cindelaras
sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada
ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai
berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke
istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya,
Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam
perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian
dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam
jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab
Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan
perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah
beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.
Berita
tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke
Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra
menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. "Hamba
menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan
dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda.
Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam
Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya
menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua
ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam
Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai
mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku
akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya
Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu
pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk...
Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden
Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat
mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda
keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah
permaisuri Baginda."
Bersamaan
dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang
sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan
kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman
yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir
Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta
maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput
permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat
berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan
kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.
“OCTO, GURITA MERAH YANG PELIT”
By : Yusuf Aldy Primadana
“OCTO,
GURITA MERAH YANG PELIT”
Hoaaammm…
Octo masih mengantuk
ketika Ibu membangunkan Octo dari tidurnya, “ayo Octo, bangun. Kamu tidak mau
terlambat kan di hari pertamamu ke sekolah?”
Octo, gurita merah
kecil itu hanya mengeliat dan mengubah posisi tidurnya sambil bergumam kepada
ibunya, “lima menit lagi, Bu. Octo masih ngantuk.”
Ibu Octo
menggeleng-gelengkan kepalanya. Octo, gurita kecilnya ini sudah dari tadi
dibangunkan. Kebiasaan tidurnya yang sampai siang ini harus diubah karena Octo
akan memasuki sekolah pertamanya dan tentunya akan bersekolah hampir setiap
hari. Ibu Octo sudah berusaha membangunkan Octo dengan cara yang lembut, yaitu
hanya mengguncangkan tubuh Octo sedikit dan menyuruhnya bangun. Tetapi
sepertinya cara itu tidak mempan bagi Octo-nya, dan Octo pun selalu mengeluhkan
“lima menit lagi, Bu”. Kalau sudah begini, saatnya menggunakan cara lebih keras.
“Baiklah gurita
kecilku. Jika kamu memang tidak ingin sekolah, kamu bukanlah anak Ibu lagi.
Silahkan kamu cari Ibu baru di luar sana!” ancam Ibu Octo. Ya, itulah cara
kerasnya, hanya sebuah ancaman. Tetapi jangan salah, ancaman tersebut mampu
membuat Octo bangun 100% dari tidurnya dan langsung menghadap ibunya.
“Baiklah, Ibu. Octo
sudah bangun dan akan siap-siap pergi ke sekolah.” kata Octo panik. Octo
memandang Ibunya dengan tatapan memelas, “Octo masih anak Ibu kan?” tanya Octo
polos. “Octo tidak mau cari Ibu lain. Octo cuma sayang Ibu.” sambungnya lagi
seperti ingin menangis.
Ibu Octo hanya
tersenyum dan memeluk anaknya, “Iya, Octo tetap anak ibu. Tetapi harus janji,
mulai sekarang Octo harus lebih rajin bangun pagi dan pergi ke sekolah. Janji?”
Octo kecil mengangguk
dan menjawab, “Octo janji, Bu.”
“Sekarang Octo
siap-siap ya. Karena ini hari pertama, Ibu akan menemani Octo berenang ke
sekolah. Hari berikutnya Octo berenang dengan teman-teman baru Octo ya.”
“Baiklah, Bu.” Octo
lalu pergi bersiap-siap untuk ke sekolah.
Hari pertama Octo
pergi ke sekolah. Ternyata banyak juga yang bersekolah disini. Pasti banyak
teman baru nih, pikir Octo. Hewan-hewan laut lainnya juga berenang bersama
induknya masing-masing.
Ketika perkenalan di
kelas, Octo memperkenalkan dirinya dengan suara yang keras, “nama saya Octo.
Saya gurita merah. Saya datang ke sekolah ini bersama Ibu saya.” Seraya
menunjuk Ibu nya yang sedang duduk. Teman-teman yang lain bertepuk tangan dan
Octo merasa bangga akan hal itu.
Hari ini hanya
perkenalan saja. Dalam waktu yang singkat Octo sudah mendapat teman baru,
seperti Squid si cumi-cumi, Clam si kerang dan banyak lagi yang lain.
Hari-hari Octo, Si
gurita merah kecil berlanjut. Octo mulai menikmati bersekolah. Dia termasuk
hewan yang aktif dan juga cerdas di kelasnya. Setiap tugas yang diberikan oleh
gurunya dapat dia selesaikan dengan mudah dan cepat. Tetapi hal tersebut
membuat Octo sombong. Dia tidak mau mengajari temannya yang meminta bantuan
kepadanya.
Ceritanya seperti ini.
Suatu hari guru di kelas Octo memberikan latihan kepada anak didiknya untuk
menyusun puzzle. Octo dengan mudahnya dapat menyusun puzzle dan dia hewan
pertama yang selesai diantara teman-temannya yang lain. Squid si cumi-cumi yang
tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat Octo meminta bantuannya untuk menyusun
puzzle. “Octo, bantuin Squid dong nyusun puzzle nya.”
Octo berfikir
sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya, “nggak mau. Itu kan mudah, masa
minta bantuan Octo sih.” tolak Octo angkuh.
Begitulah, setiap ada
yang meminta bantuan, Octo selalu menolaknya dengan angkuh. Lama-lama tidak ada
lagi yang mau berteman dengan Octo. Mereka semua menjauhi Octo karena kepelitan
Octo. Octo yang awalnya cuek, akhirnya merasa kesepian juga. Tidak ada teman
yang mau berbicara dengannya. Octo juga sudah beberapa hari ini pulang
sendirian ke rumahnya. Octo merasa sedih.
Ibu Octo yang melihat
gurita kecilnya sedih lalu bertanya, “Octo, gurita kecil Ibu. Kamu kenapa nak,
kok belakangan ini Ibu lihat kamu murung?” Octo menjawab pertanyaan ibunya
sambil menunduk, “Octo tidak punya teman, Ibu.”
“Tidak punya teman?
Bukankah awal-awal sekolah Octo punya banyak teman?” tanya Ibu heran. Octo
mengangguk, “iya Ibu. Tetapi mereka sekarang sudah tidak mau berteman lagi
dengan Octo.”
Ibu Octo hanya
mengangguk, kemudian bertanya lagi, “pasti ada sesuatu yang Octo lakukan
sehingga teman-teman Octo tidak mau lagi bermain bersama Octo. Coba ingat-ingat
lagi, apakah Octo punya salah dengan mereka?”
Octo terdiam sejenak,
berfikir sebentar. “hmm, mungkin karena Octo tidak mau membantu mereka
mengerjakan tugas?” kata Octo lebih seperti pertanyaan kepada ibunya.
“Kenapa Octo tidak mau
membantu mereka?” tanya Ibu lagi. Octo menatap Ibunya, “karena kalau Octo
membantu mereka mengerjakan tugas, Octo takut mereka akan menjadi lebih pintar
dari Octo, Ibu.”
Ibu Octo hanya
tersenyum mendengar jawaban anaknya yang polos itu. Ibu Octo lalu menatap Octo
dengan penuh kasih sayang dan menjelaskan, “Octo sayang. Kamu seharusnya membantu
teman-teman kamu yang meminta bantuan. Memang mereka akan mendapat ilmu dengan
kamu membantu mereka, dan itu berarti ilmu yang kamu punya akan bermanfaat.
Bahkan dengan kamu membantu teman-teman kamu, ilmu yang kamu dapatkan akan
semakin bertambah dan bahkan membuat kamu semakin pintar.”
Octo menatap Ibunya
tidak percaya, “benarkah Ibu? Jadi Octo akan bertambah pintar jika Octo
membantu teman-teman?”
“Benar, Octo. Jadi
besok bantulah teman Octo yang terlihat kesulitan dalam mengerjakan tugas.
Besok, jangan lupa juga minta maaf dengan teman-teman Octo.” Kata ibu Octo
lagi. Octo mengangguk kan kepalanya dan memeluk Ibunya. “Terima kasih ibu. Octo
besok mau minta maaf sama teman-teman.” Octo lalu mencium Ibunya. “Octo sayang
Ibu.”
Ibu menatap Octo dan balas
menciumnya, “Ibu juga sayang Octo, gurita merah kecil ibu.”
Keesokan harinya
ketika Octo berenang menuju sekolahnya, Octo melihat teman-temannya berenang
mendahuluinya. Octo masih malu ketika ingin menyapa teman-temannya. Nanti saja
ketika di sekolah, Octo akan minta maaf dengan mereka, pikir Octo.
Ketika di sekolah,
Octo masih sendiri. Dia belum berani untuk menyapa teman-temannya hingga bel
tanda masuk berbunyi. Apa yang akan Octo bilang pada mereka. Kalau mereka masih
marah, bagaimana?
“Baiklah, sekarang
kita akan menyusun kerikil-kerikil ini sesuai dengan bentuk yang ada di papan.”
Kata-kata guru membuat Octo sadar dari lamunannya. Dengan sigap dan cepat Octo
langsung mengerjakan apa yang diminta gurunya. Tidak butuh waktu lama, Octo
telah selasai dengan tugasnya.
Octo melirik ke arah
teman-temannya. Dilihatnya Squid si cumi-cumi masih menyusun kerikil-kerikil
miliknya. Akhirnya Octo memutuskan untuk menghampiri Squid. “Mau Octo bantu,
Squid?” Squid agak terkejut melihat gurita merah itu di sampingnya. “Bo.. boleh
kalau Octo mau bantu.” Octo dengan senang membantu Squid menyelesaikan
tugasnya.
“Maafin Octo, Squid.
Octo nggak mau bantu Squid ketika ngerjain tugas waktu itu.” kata Octo kepada
Squid. “Iya, Octo. Udah Squid maafin kok. Sekarang kita temenan lagi ya.” jawab
Squid sambil tersenyum.
Sejak saat itu
hubungan Octo si gurita merah dengan teman-temannya membaik. Octo selalu
membantu teman-temannya yang kesulitan mengerjakan tugas, begitupun
teman-temannya yang senang dengan kebaikan hati Octo. Mereka akhirnya sering
bermain bersama di dasar laut biru yang indah.
Semut Yang Hemat
By : Yusuf Aldy Primadana
“SEMUT YANG HEMAT”
Pada zaman dahulu
kala, hiduplah seorang Raja yang sangat terkenal keadilannya. Raja tersebut
sangat mencintai rakayatnya. Yang lebih istimewanya lagi Raja ini adalah
seorang yang penyayang binatang. Suatu hari sang Raja pergi jalan-jalan menemui
seekor Semut.
“Bagaimana kabarmu
Semut?” tanya sang Raja.
“Hamba baik-baik saja,
baginda.” jawaba Semut sangat gembira.
“Dari mana saja kau
pergi?”
“Hamba sejak dari pagi
pergi ke beberapa tempat, tetapi belum juga mendapatkan makanan baginda.”
“Jadi, sejak tadi pagi
kamu belum makan?”
“Benar baginda.” Raja
itu pun termenung sejenak. Kemudian berkata.
“Hai Semut. Seberapa
banyak makanan yang kau butuhkan untuk dalam satu tahun?”
“Hanya sepotong roti
baginda,” jawab Semut.
“Kalau begitu, maukah
kau ku beri sepotong roti untuk hidupmu setahun?”
“Hamba sangat senang
baginda.”
“Kalau begitu, ayo
engkau ku bawa pulang ke istana,” ujar Raja tersebut.
Semut sangat gembira
karena mendapatkan anugerah makanan dari sang Raja. Ia tidak susah lagi mencari
makan dalam setahun. Dan tentu saja roti pemberian dari sang Raja lebih enak
dan manis. “Sekarang engkau masuklah ke dalam tabung yang telah ku isi sepotng
roti ini,” perintah san Raja.
“Terima kasih baginda.
Hamba akan masuk.”
“Setahun yang akan
datang tabung ini baru akan ku buka,” ujar sang Raja lagi.
“Hamba sangat gembira
baginda.”
Tabung berisi roti dan
Semut itu pun segera ditutup rapat oleh sang Raja. Tutup tabung itu terbuat
dari bahan khusus, sehingga udara tetap masuk di dalam tabung. Tabung tersebut
disimpan di tempat khusus di dalam istana. Hari-hari berikutnya sang Raja tetap
memimpin rakyatnya. Berbagai urusan ia selesaikan secara bijaksana. Akhirnya,
setelah genap setahun, teringatlah sang Raja akan janjinya pada sang Semut.
Perlahan-lahan sang Raja membuka tutup tabung berisi Semut itu. Ketika tutup
tabung terbuka, si Semut baru saja menikmati roti pemberian Raja setahun yang
lalu.
“Bagaimana kabarmu
Semut?” tanya sang Raja ketika matanta melihat Semut di dalam tabung.
“Keadaan hamba
baik-baik saja baginda.”
“Tdak pernakah kau
sakit dalam setahun di dalam tabung ini?”
“Tidak baginda, selama
setahun hamba tidak pernah sakit.”
Kemudian sang Raja
termenung sejenak sambil melihat sisa roti milik Semut tersebut.
“Mengapa roti
pemberianku tidak kau habiskan sedangkan dalam setahun kau hanya memerlukan
sepotong roti?” tanya sang Raja. “Begini baginda, roti itu memang hamba sisakan
separuh. Sebab hamba khawatir jangan-jangan, baginda lupa membukanya, tentu
saja hamba masih bisa makan roti setahun lagi. Tapi untunglah baginda tidak
lupa membuka tutup tabung ini. Hamba sangat senang sekali baginda.” sang Raja
sangat terkejut sekali mendengar penjelasan sang Semut yang tahu hidup hemat.
Sang Raja pun
tersenyum kecil melihat Semut tersebut. “Kau adalah Semut yang hebat, kau dapat
menghemat kebutuhanmu. Hali ini akan ku siarkan ke seluruh negeri, agar
rakyat-rakyatku dapat mencontohmu. Kalau Semut saja dapat menghemat, mengapa
manusia justru hidup boros?”
“Sebaiknya baginda
jangan terlalu memuji hamba,” jawab si Semut. Semut itu akhirnya mendapat
hadiah lagi dari sang Raja. Sebagai tanda terima kasih karena telah
mengajarinya tanda hidup hemat.







