- Back to Home »
- “OCTO, GURITA MERAH YANG PELIT”
Posted by : Yusuf Aldy Primadana
Jumat, 25 Maret 2016
“OCTO,
GURITA MERAH YANG PELIT”
Hoaaammm…
Octo masih mengantuk
ketika Ibu membangunkan Octo dari tidurnya, “ayo Octo, bangun. Kamu tidak mau
terlambat kan di hari pertamamu ke sekolah?”
Octo, gurita merah
kecil itu hanya mengeliat dan mengubah posisi tidurnya sambil bergumam kepada
ibunya, “lima menit lagi, Bu. Octo masih ngantuk.”
Ibu Octo
menggeleng-gelengkan kepalanya. Octo, gurita kecilnya ini sudah dari tadi
dibangunkan. Kebiasaan tidurnya yang sampai siang ini harus diubah karena Octo
akan memasuki sekolah pertamanya dan tentunya akan bersekolah hampir setiap
hari. Ibu Octo sudah berusaha membangunkan Octo dengan cara yang lembut, yaitu
hanya mengguncangkan tubuh Octo sedikit dan menyuruhnya bangun. Tetapi
sepertinya cara itu tidak mempan bagi Octo-nya, dan Octo pun selalu mengeluhkan
“lima menit lagi, Bu”. Kalau sudah begini, saatnya menggunakan cara lebih keras.
“Baiklah gurita
kecilku. Jika kamu memang tidak ingin sekolah, kamu bukanlah anak Ibu lagi.
Silahkan kamu cari Ibu baru di luar sana!” ancam Ibu Octo. Ya, itulah cara
kerasnya, hanya sebuah ancaman. Tetapi jangan salah, ancaman tersebut mampu
membuat Octo bangun 100% dari tidurnya dan langsung menghadap ibunya.
“Baiklah, Ibu. Octo
sudah bangun dan akan siap-siap pergi ke sekolah.” kata Octo panik. Octo
memandang Ibunya dengan tatapan memelas, “Octo masih anak Ibu kan?” tanya Octo
polos. “Octo tidak mau cari Ibu lain. Octo cuma sayang Ibu.” sambungnya lagi
seperti ingin menangis.
Ibu Octo hanya
tersenyum dan memeluk anaknya, “Iya, Octo tetap anak ibu. Tetapi harus janji,
mulai sekarang Octo harus lebih rajin bangun pagi dan pergi ke sekolah. Janji?”
Octo kecil mengangguk
dan menjawab, “Octo janji, Bu.”
“Sekarang Octo
siap-siap ya. Karena ini hari pertama, Ibu akan menemani Octo berenang ke
sekolah. Hari berikutnya Octo berenang dengan teman-teman baru Octo ya.”
“Baiklah, Bu.” Octo
lalu pergi bersiap-siap untuk ke sekolah.
Hari pertama Octo
pergi ke sekolah. Ternyata banyak juga yang bersekolah disini. Pasti banyak
teman baru nih, pikir Octo. Hewan-hewan laut lainnya juga berenang bersama
induknya masing-masing.
Ketika perkenalan di
kelas, Octo memperkenalkan dirinya dengan suara yang keras, “nama saya Octo.
Saya gurita merah. Saya datang ke sekolah ini bersama Ibu saya.” Seraya
menunjuk Ibu nya yang sedang duduk. Teman-teman yang lain bertepuk tangan dan
Octo merasa bangga akan hal itu.
Hari ini hanya
perkenalan saja. Dalam waktu yang singkat Octo sudah mendapat teman baru,
seperti Squid si cumi-cumi, Clam si kerang dan banyak lagi yang lain.
Hari-hari Octo, Si
gurita merah kecil berlanjut. Octo mulai menikmati bersekolah. Dia termasuk
hewan yang aktif dan juga cerdas di kelasnya. Setiap tugas yang diberikan oleh
gurunya dapat dia selesaikan dengan mudah dan cepat. Tetapi hal tersebut
membuat Octo sombong. Dia tidak mau mengajari temannya yang meminta bantuan
kepadanya.
Ceritanya seperti ini.
Suatu hari guru di kelas Octo memberikan latihan kepada anak didiknya untuk
menyusun puzzle. Octo dengan mudahnya dapat menyusun puzzle dan dia hewan
pertama yang selesai diantara teman-temannya yang lain. Squid si cumi-cumi yang
tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat Octo meminta bantuannya untuk menyusun
puzzle. “Octo, bantuin Squid dong nyusun puzzle nya.”
Octo berfikir
sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya, “nggak mau. Itu kan mudah, masa
minta bantuan Octo sih.” tolak Octo angkuh.
Begitulah, setiap ada
yang meminta bantuan, Octo selalu menolaknya dengan angkuh. Lama-lama tidak ada
lagi yang mau berteman dengan Octo. Mereka semua menjauhi Octo karena kepelitan
Octo. Octo yang awalnya cuek, akhirnya merasa kesepian juga. Tidak ada teman
yang mau berbicara dengannya. Octo juga sudah beberapa hari ini pulang
sendirian ke rumahnya. Octo merasa sedih.
Ibu Octo yang melihat
gurita kecilnya sedih lalu bertanya, “Octo, gurita kecil Ibu. Kamu kenapa nak,
kok belakangan ini Ibu lihat kamu murung?” Octo menjawab pertanyaan ibunya
sambil menunduk, “Octo tidak punya teman, Ibu.”
“Tidak punya teman?
Bukankah awal-awal sekolah Octo punya banyak teman?” tanya Ibu heran. Octo
mengangguk, “iya Ibu. Tetapi mereka sekarang sudah tidak mau berteman lagi
dengan Octo.”
Ibu Octo hanya
mengangguk, kemudian bertanya lagi, “pasti ada sesuatu yang Octo lakukan
sehingga teman-teman Octo tidak mau lagi bermain bersama Octo. Coba ingat-ingat
lagi, apakah Octo punya salah dengan mereka?”
Octo terdiam sejenak,
berfikir sebentar. “hmm, mungkin karena Octo tidak mau membantu mereka
mengerjakan tugas?” kata Octo lebih seperti pertanyaan kepada ibunya.
“Kenapa Octo tidak mau
membantu mereka?” tanya Ibu lagi. Octo menatap Ibunya, “karena kalau Octo
membantu mereka mengerjakan tugas, Octo takut mereka akan menjadi lebih pintar
dari Octo, Ibu.”
Ibu Octo hanya
tersenyum mendengar jawaban anaknya yang polos itu. Ibu Octo lalu menatap Octo
dengan penuh kasih sayang dan menjelaskan, “Octo sayang. Kamu seharusnya membantu
teman-teman kamu yang meminta bantuan. Memang mereka akan mendapat ilmu dengan
kamu membantu mereka, dan itu berarti ilmu yang kamu punya akan bermanfaat.
Bahkan dengan kamu membantu teman-teman kamu, ilmu yang kamu dapatkan akan
semakin bertambah dan bahkan membuat kamu semakin pintar.”
Octo menatap Ibunya
tidak percaya, “benarkah Ibu? Jadi Octo akan bertambah pintar jika Octo
membantu teman-teman?”
“Benar, Octo. Jadi
besok bantulah teman Octo yang terlihat kesulitan dalam mengerjakan tugas.
Besok, jangan lupa juga minta maaf dengan teman-teman Octo.” Kata ibu Octo
lagi. Octo mengangguk kan kepalanya dan memeluk Ibunya. “Terima kasih ibu. Octo
besok mau minta maaf sama teman-teman.” Octo lalu mencium Ibunya. “Octo sayang
Ibu.”
Ibu menatap Octo dan balas
menciumnya, “Ibu juga sayang Octo, gurita merah kecil ibu.”
Keesokan harinya
ketika Octo berenang menuju sekolahnya, Octo melihat teman-temannya berenang
mendahuluinya. Octo masih malu ketika ingin menyapa teman-temannya. Nanti saja
ketika di sekolah, Octo akan minta maaf dengan mereka, pikir Octo.
Ketika di sekolah,
Octo masih sendiri. Dia belum berani untuk menyapa teman-temannya hingga bel
tanda masuk berbunyi. Apa yang akan Octo bilang pada mereka. Kalau mereka masih
marah, bagaimana?
“Baiklah, sekarang
kita akan menyusun kerikil-kerikil ini sesuai dengan bentuk yang ada di papan.”
Kata-kata guru membuat Octo sadar dari lamunannya. Dengan sigap dan cepat Octo
langsung mengerjakan apa yang diminta gurunya. Tidak butuh waktu lama, Octo
telah selasai dengan tugasnya.
Octo melirik ke arah
teman-temannya. Dilihatnya Squid si cumi-cumi masih menyusun kerikil-kerikil
miliknya. Akhirnya Octo memutuskan untuk menghampiri Squid. “Mau Octo bantu,
Squid?” Squid agak terkejut melihat gurita merah itu di sampingnya. “Bo.. boleh
kalau Octo mau bantu.” Octo dengan senang membantu Squid menyelesaikan
tugasnya.
“Maafin Octo, Squid.
Octo nggak mau bantu Squid ketika ngerjain tugas waktu itu.” kata Octo kepada
Squid. “Iya, Octo. Udah Squid maafin kok. Sekarang kita temenan lagi ya.” jawab
Squid sambil tersenyum.
Sejak saat itu
hubungan Octo si gurita merah dengan teman-temannya membaik. Octo selalu
membantu teman-temannya yang kesulitan mengerjakan tugas, begitupun
teman-temannya yang senang dengan kebaikan hati Octo. Mereka akhirnya sering
bermain bersama di dasar laut biru yang indah.
