Popular Post

Archive for Maret 2016

TIMUN MAS

By : Yusuf Aldy Primadana
                              TIMUN MAS
 
 cerita timun mas dalam bahasa indonesia
 Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.
Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. Hei, mau kemana kamu?, tanya si Raksasa. Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat, jawab mbok Sarni. Hahahaha…. kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, Tetapi aku tidak mempunyai anak.
Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun.
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.
Cerita Timun Mas
Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.
Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata, Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu, perintah petapa. Kemudian timun meas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. Mana anak itu? Mana timun emas?, teriak si raksasa.
Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya. Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!, teriak timun emas.
Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.
Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.
Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.
Cerita Rakyat “Timun Emas” ini diceritakan kembali oleh Kak Ghulam Pramudiana

BAWANG MERAH DAN BAWAH PUTIH

By : Yusuf Aldy Primadana
BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH
Hasil gambar untuk dongeng bawang merah bawang putih


Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.

“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

“kELINCI DAN bERUANG”

By : Yusuf Aldy Primadana
“kELINCI DAN bERUANG”

        Suatu hari, hiduplah seekor beruang dan kelinci. Kelinci adalah penembak yang baik. Sebaliknya, beruang selalu canggung dan tidak bisa menggunakan panah untuk menembak.
        Suatu hari, beruang yang di sebut di atas kelinci dan meminta kelinci untuk mengambil busur dan anak panahnya. Karena dia takut untuk membangkitkan kemarhan beruang, ia tidak menolak tantangan. Dia pergi dengan beruang dan menembak kerbau.Dia menembak dan membunuh begitu banyak bahwa daging yang tersisa setelah.
        Namun beruang tidak membuat kelinci mendapatkan daging. Bahkan dia tidak bisa merasakannya. Kelinci miskin pulang lapar setelah seharian bekerja keras.


        Untungnya, anak bungsu dari beruang itu sangat baik untuk kelinci. Ibunya beruang selalu memberinya sepotong extra besar daging tetapi dia tidak makan semuanya. Ia mengambil beberapa luar dengan dia dan berpura-pura untuk bermain bola dengan aging. Dia menendang bola daging menuju rumah kelinci. Daging terbang kerumah kelinci. Dengan cara ini, kelinci lapar mendapatkan makanannya.

GAJAH DAN TIKUS

By : Yusuf Aldy Primadana
“GAJAH DAN TIKUS”

Pada suatu hari, seekor Gajah keluar dari rumahnya. Ia ingin pergi untuk berjalan-jalan untuk menghirup udara segar dan melemaskan otot-ototnya yang kaku. Namun, di tengah perjalanan. Ia bertemu dengan seekor Tikus kecil yang menjual bunga. Sang Tikus pun menawarkan dagangannya kepada Gajah dengan ramah.

Gajah pun tertarik. Bunga yang di tawarkan Tikus sangat indah dan cantik. Warnanya yang kuning lembut dan sangat mekar. Harga bunganya pun sangat murah. Namun, Gajah diam sejenak dan berpikir tentang bagaimana dengan baunya? Sangat lama Gajah berpikir dan menatap bunga tersebut. Sang penjual bunga pun melihat bahwa Gajah tertari dengan daganganya tersebu.

‘’ Bunga ini sangat harum Tuan! Sangat pantas untuk pengharum ruangan.’’ Kata Tikus mempromosikan dagangannya.

‘’ Bunga apa ini?’’ Tanya Gajah.

‘’ Ini adalah sebuah bunga yang sangat ajaib!’’ jawab Tikus.

‘’ Apakah bunga ini wangi?’’ Tanya Gajah.

‘’ Tentu saja! Bunga ini sangat harum’’ jawab Tikus.

‘’ Boleh aku mencobanya?’’ Tanya Gajah penasaran dengan wanginya.

‘’ Tentu saja Tuanku! Silahkan.’’

Gajah pun sperlahan-lahan menjulurkan belalainya yang panjang. Ia pun mengirup wangin bunga ajaib itu. Benar sekali yang di katakan Tikus. Bunga tersebut sangat wangi. Namun, tidak lama kemudian hidungnya terasa geli dan gatal tidak bisa tertahan. Hidungnya tiba-tiba akan bersin. Tetapi ia terus menahanya. Karena, tidak baik bersin didepan orang lain. Namun, hidungnya terus saja terasa geli, ia terus mencoba menahannya. Akhirnya, tanpa di sadari Gajah engambil ancang-ancang untuk bersin.

Ia menghirup udara kuat-kuat melalui mulutnya yang besar. Begitu besar angin yang masuk kedalam mulutnya. Bahkan, tangkai bunga pun tersedot keluar dari tangkainya. Melihat ancang-ancang Gajah, Tikus pun bersiap untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. ia berpikir akan terjadi angin topan.

Tiba-tiba, Gajah pun bersin dengan sangat hebat. Akibat, bersinnya yang hebat itu merusak rumah-rumah, gentengnya berterbangan seperti di landa angin topan. Tikus pun terpelanting sangat jauh puluhan meter. Bunga dagangannya pun berserakan kemana-mana. Karena, bersinnya yang sangat hebat. Gajah pun terjatuh ke tanah dan bahkan mengeluarkan air mata. Ia melihat semua yang di hadapannya rusak akibat bersinnya tersebut. ia merasa sangat bersalah dan menyesal. Namun, itu semua bukan keinginannya.

Cerita Rakyat Fabel Dongeng Gajah dan Tikus
Cerita Rakyat Fabel Dongeng Gajah dan Tikus
Gajah hanya diam sambil menatap semua kerusakan. Tiba-tiba, datanglah seekor Badak, ia bertingkah seperti seorang polisi dan melihat kejadian tersebut. Melihat Badak datang, Tikus pun timbul keberaniannya. Ia segera berlari-lari menghampiri Gajah.

‘’ Hei Tuan! Kau harus mengganti kerugianku. Lihatlah! Bunga-bunga daganganku semua berhamburan dan hancur. Aku akan adukan kau kepada Badak.’’ Bentak Tikus marah.

Gajah hanya diam. Ia merasa sangat merasa bersalah.

‘’ Tenanglah, aku akan mengganti semua kerugianmu.’’ Kata Gajah dengan lembut.

Badak pun mengampiri Gajah dan Tikus.

‘’ Lihat akibat perbuatanmu!’’ bentak Badak dan menunjuk ke arah rumah-rumah yang rusak.

‘’ Iya, itu salahku!’’ kata Gajah mengakui kesalahannya.

‘’ Bunga-bungaku semuanya rusak. Aku meminta ganti rugi.’’ Bentak Tikus.

Sebenarnya Gajah sangat marah kepada Tikus. Karena bunga yang ia jual. Akibatnya malah kacau balau. Tetapi ia menahan kemarahannya.

‘’ Apa benar yang dikatakan Tikus?’’ Tanya Badak.

‘’ Tidak! Saya tidak merusaknya dengan sengaja!’’ jawab Gajah.

‘’ Bagaimana rumah itu bisa hancur? Dan bunga-bunga yang Tikus jual berserekan kemana-mana?’’ Tanya Badak

‘’ Saya hanya bersin Tuan!’’

‘’ Bersin? Hanya karena bersin rumah-rumah ini hancur?’’ Tanya Badak tidak percaya.

‘’ Saya hanya mencium bunga yang di jual Tikus.’’ Jawab Gajah dan menunjuk bunga-buga yang berserakan.

‘’ Hmm, bunga siapa itu?’’ Tanya Badak.

‘’ Itu adalah bunga Tikus!’’

Badak pun melihat ke arah Tikus. Tiba-tiba, Tikus berubah menjadi gelisah. Badak pun mengerti bahwa ini bukan kesalahan Gajah seorang. Akhirnya, badak yang bertingkah menjadi polisi tersebut menengahi Gajah dan Tikus.

Akhirnya, Tikus pun meminta maaf karena sudah menjual bunga ajaib yang menjadi malapetaka tersebut. Gajah pun merasa bersalah, karena bersinnya tersebut mengakibatkan kerusakan yang sangat besar dan merugikan orang lain. Badak pun melanjutkan perjalanannya setelah menjadi polisi. Mereka berdua mengakui kesalahannya dan semenjak itu. Gajah dan Tikus berteman baik. Semua itu berkat bunga ajaib.

                                                                                                                                                                   
Pesan moral dari Cerita Rakyat Fabel : Dongeng Gajah dan Tikus adalah akui kesalahanmu sendiri. Jangan berbohon dan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang telah kamu buat.

“Monyet Cerdas dan Buaya Kusam”

By : Yusuf Aldy Primadana
“Monyet Cerdas dan Buaya Kusam”


Suatu hari ada monyet. Dia ingin menyeberang sungai. Di sana ia melihat buaya sehingga ia meminta buaya untuk membawanya di sisi lain sungai. buaya setuju dan mengatakan monyet untuk melompat di punggungnya. Kemudian buaya berenang di sungai dengan monyet di atas nya.
Sayangnya, buaya itu sangat lapar, ia berhenti di tengah sungai dan berkata kepada monyet, "Ayah saya sangat sakit. Dia harus makan jantung monyet. Jadi dia akan sehat kembali. "

Pada saat itu, monyet itu dalam situasi berbahaya dan ia harus berpikir keras. Kemudian ia memiliki ide yang baik. Dia mengatakan kepada buaya berenang kembali ke tepi sungai. "Apa?" Tanya buaya. "Karena aku tidak membawa hati saya," kata monyet. "Aku meninggalkannya di bawah pohon, dekat beberapa kelapa di tepi sungai."
buaya setuju dan berbalik. Ia berenang kembali ke tepi sungai. Begitu mereka tiba di tepi sungai, monyet melompat dari punggung buaya. Kemudian dia naik ke atas pohon.

"Dimana hatimu?" Tanya buaya. "Kau bodoh," kata monyet untuk buaya. "Sekarang saya bebas dan saya memiliki hati saya."

- See more at: http://nandaaryunita48.blogspot.co.id/2016/03/the-smart-monkey-and-dull-crocodile.html#sthash.5KLR321W.dpuf
By : Yusuf Aldy Primadana
“Ular dan Katak”
     Zaman dahulu kala, di kerajaan, hiduplah seekor katak yang indah. Dia adalah anak dari raja katak. Setiap hari, dia selalu menghabiskan waktunya di depan cermin. Suatu hari, dia jatuh bosan jadi, dia pergi ke hutan. Dia pergi ke sana sendirian. Ketika dia tiba di hutan, ia melihat sebuah sungai murni yang banyak bunga di sini dan kemudian dia mengambil beberapa bunga.
     Dan saat yang sama, datang seekor ular yang memiliki kaki yang kuat. Ia kagum dengan katak yang indah dan kemudian dia menunjukkan otot dan katak nya jatuh cinta dengan ular. Akhirnya mereka saling mencintai. Tapi, di tempat lain, raja katak mengadakan kontes untuk mencari untuk menjadi suami dari putrinya. Raja katak mengatakan "siapa yang cepat dalam berjalan, dia akan mendapatkan anak saya". Segera semua hewan, mempersiapkan bergabung dengan kontes seperti mouse, kalajengking, laba-laba dan termasuk ular.

      Suatu hari, ketika ular itu pelatihan, dan merasa kecewa karena dia tidak bisa berlari sangat cepat. Dia langsung pulang. Pada malam hari, ia bermimpi tentang pertemuan dengan orang tua. Orang tua itu memberitahu untuk memotong kakinya. Jadi, dia bisa berlari sangat cepat. Akhirnya, ia bisa berlari sangat masa lalu dan menjadi juara. Tapi dia benar-benar kecewa apa yang lakukan katak berkata "Aku tidak suka Anda, karena Anda tidak memiliki kaki yang lain" hati karena kecewa, ia punya rusak dan lari ke hutan. Dia bersumpah jika ia bertemu katak, ia akan memakannya, itulah penyebab mengapa ular tidak memiliki kaki dan suka makan katak.

“PUTRI TIKUS”

By : Yusuf Aldy Primadana
“PUTRI TIKUS”

Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan hiduplah seorang Raja dengan ketiga Putranya. Ketiga Putranya kini sudah tumbuh menjadi dewasa. Karena ketiga Pangeran sudah dewasa, Raja sangat berharap mereka segera menikah.

Suatu hari, Raja menyuruh ketiga Pangeran untuk pergi mengembara. Dengan begitu mereka dapat mencari seorang istri. Akhirnya, Pangeran sulung, meminta restu sang Raja. Namun, di tengah perjalanan. Pangeran Sulung melihat seekor Tikus. Tikus berlari kesana kemari, Tikus itu terlihat berbeda dari Tikus lainnya. akhirnya, Tikus berlari menghampiri kaki Kuda yang di naiki Pangeran Sulung, Pangeran Sulung berusaha supaya Kudanya tidak menginjak si Tikus, namun, Tikus tidak mau pergi.


‘’ Hei, Tikus. Pergilah! Jangan sampai kau, di injak oleh Kudaku!’’ teriak Pangeran Sulung.

‘’ Jangan injak aku Pangeran tampan. Ajaklah aku ke Istana, dan jadikan aku tunanganmu.’’ Kata si Tikus.
Cerita Dongeng Anak Dunia Legenda Putri Tikus

‘’ Hahaa. Apa yang kau katakana? Aku harus membawamu dan menjadikanmu sebagai tunanganku? Itu tidak mungkin.!’’ Jawab Pangeran Sulung, ia langsung pergi dan mempercepat kudanya.

Tidak lama kemudian, Pangeran Sulung memberikan kabar ke pada Raja, ia sudah bertemu dengan Putri cantik dari kerajaan tetangga. Setelah mendapat kabar baik, Pangeran Kedua langsung pergi mengembara. Sama persis seperti Pangeran Sulung, ia bertemu seekor Tikus. Tikus memohon untuk di jadikan tunangannya. Pangeran Kedua tidak meghiraukan dan langsung pergi dengan cepat. Pangeran Kedua pun berhasil bertemu dengan Putri dari kerajaan lain.

Akhirnya, Pangeran Bungsu meminta restu Raja untuk segera pergi mengembara dan membawa Putri cantik. Namun, di tengah perjalanan ia pun bertemu dengan seekor Tikus sama seperti kedua kakaknya. Si Tikus pun memohon dengan sangat sedih. Agar Pangeran Bungsu membawanya ke istana dan menjadikannya sebagai tunangan. Pangeran Bungsu merasa sangat kasihan melihat si Tikus memohon. Ia bersedia menerima si Tikus.

Tikus, langsung mengajak Pangeran untuk melihat tempat tinggal yang di huninya. Tikus berlari mendahului Pangeran Bungsu untuk menunjukkan jalan. Hatinya sangat gembira. Pangeran Bungsu menaiki Kuda dan mengikuti dari belakang dan sampailah di sebuah batu yang sangat besar.

‘’ Pangeran, disilah tempat tinggalku. Tunggulah sebentar’’ kata Tikus masuk kedalam liang kecil.

Pangeran Bungsu sangat penasaran. Ia langsung turun dari Kudanya dan menghampiri liang Tikus terebut. Tiba-tiba terpancarlah sinar kearah Pangeran Bungsu. Setelah ia menunggu cukup lama. Akhirnya, keluarlah si Tikus dan menyerahkan cincinnya kepada Pangeran Bungsu. Cincin itu sangat indah, Pangeran pun sangat terkejut melihat cincin yang indah dan belum pernah di lihatnya.

Pangeran Bungsu segera kembali ke Istananya. Ia pun menunjukan cincin dari Tikus. Namun, ia sama sekali tidak mau menceritakan dari mana asal Putri yang menjadi pilihannya. Semua orang dalam istana terkejut melihat keindahan cincin yang ia kenakan. Cincin kedua kakaknya tidak seindah cincin yang di miliki Pangeran Bungsu. Setelah beberapa saat. Raja memanggil ketiga Putranya.

‘’ Anak-anakku, aku ingin ingin sekali memakan roti buatan calon-calon menantuku. Pergilah dan Tolong sampaikan pesanku ini kepada calon istri kalian!’’ kata Raja.

Pangeran Bungsu sangat kebingungan. Ia berpikir bagaimana cara Tikus tunangannya membuatkan roti untuk Raja. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan apa permintaan ayah. Pangeran Bungsu langsung pergi menemui si Tikus dan memanggilnya. Ia menanyakan apakah Tikus sanggup membuatkan roti.

‘’ Pangeran, apakah hanya itu permintaan Raja? Tidak usah khawatir Pangeran, besok pagi roti yang di inginkan Raja akan aku siapkan.’’

Pangeran segera kembali ke istana dan sangat berharap Tikus tunangannya benar-benar dapat membuatkan roti. Keesokan harinya, Pangeran Bungsu segera kembali ke rumah Tikus. Ia melihat Tikus sudah menunggunya dan roti pesanan Raja. Pangeran Bungsu segera membawa roti tersebut ke istana.

Raja pun langsung mencicipi roti buatan calon-calon menantunya. Kedua kakaknya membawa roti yang rasanya biasa. Namun, Roti yang paling lezat, adalah roti buatan Tikus calon istri dari Pangeran Bungsu.

‘’ Aku sudah memcicipi roti buatan calon istri kalian. Sekarang, aku ingin tahu, apakan mereka dapat membuatkan minuman yang enak untukku.’’ Kata Raja.

Ketiga Pangeran langsung pergi menemui calon istrinya masing-masing untuk memberitahukan permintaan Raja yang kedua. Si tikus pun menyuruh Pangeran Bungsu untuk kembali keesokan harinya. Keesokan harinya Pangeran Bungsu kembali, dan ia melihat sebuat pot emas dan di hiasi batu-batu mulia, sudah siap. Ketika tutup pot di buka, terciumlah bau yang sangat wangi dan segar.

Raja pun langsung mencicipi minuman itu. Namun, Raja tidak pernah minum minuman sesegar dan seenak buatan si Tikus. Raja sangat bahagia. ‘’ Kalian bertiga, sudah berhasil mendapatkan calon istri yang baik. Namun, Putra Bungsu tunanganmu lah yang terbaik. Roti dan minuman buatannya sangat enak.’’ Kata sang Raja.

Akhirnya, Raja meminta ketiga Putranya untuk membawa calon istrinya ke istana. Raja ingin sekali melihat wajah calon menantunya.

Pangeran Bungsu pun mulai kebingungan. ‘’ sekarang, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana mungkin aku membawa Tikus ke istana.’’ Pangeran Bungsu langsung pergi menemui Tikus dan mengabarkan untuk membawanya ke istana.

‘’ Tikus, sejujurnya aku sangat khawatir, bagaimana caranya aku membawamu ke istana.’’ Kata Pangera Bungsu.

‘’ Jangan khawatir Pangeran. Semuanya akan berakhir dengan baik. Namun, Pangeran harus menuruti semua yang aku katakana. Siapkan satu kulit telur, enam ekor kumbang, dan dua ekor lalat.’’ Jawab si Tikus.

‘’ Ikatka keenam ekor kumbang pada kulit telur tersebut, kemudia pasangkan ke dua ekor lalat dalam kulit telur, satu di depan dan di belakangku. Aku akan berada paling belakang, dan saat aku tiba di istana nanti, tirukan apa yang kedua kakak Pangeran lakukan kepada calon istrinya. Semuanya akan berakhir dengan baik.’’ Sambungnya.

Pangeran Bungsu menuruti apa yang dikatakan si Tikus. Hatinya pun sedikit ragu dan khawatir apa yang akan terjadi. Tidak lama kemudian, Tikus duduk di dalam kulit telur dan berangkatlah mereka keistana. Pengeran Bungsu melihat kedua kakaknya menggendong dan mencium calon istrinya. Pangeran Bungsu pun melakukan peris seperti kakaknya.

Tanpa di duga, tiba-tiba, seorang Putri cantik berada dalam gendongan Pangeran Bungsu dan kendaraan yang di naiki Tikus berubah menjadi sebuah kereta indah. lengkap dengan pengawalnya. Mereka pun masuk ke dalam istana. Semua orang yang berada dalam istana sangat terpesona melihat kecantikan Putri Tikus. Setelah mengenalkan calon istri dari ketiga Pangeran. Putri-putri tersebut kembali ke istana masing-masing.

Pangeran Bungsu mengantarkan Putri Tikus kembali rumahnya. Batu tempat tinggalnya berubah menjadi istana yang indah dan megah. Ternyata Putri terkena kutukan penyihir jahat, sehingga istananya berubah menjadi batu dan ia berubah menjadi Tikus.


Akhirnya, Putri dan Pangeran Bungsu menikah, dan hidup sangat bahagia.

“CINDELARAS”

By : Yusuf Aldy Primadana
“CINDELARAS”

Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang memiliki sifat iri dan dengki. Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri.

Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...", kokok ayam itu

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."


Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

“OCTO, GURITA MERAH YANG PELIT”

By : Yusuf Aldy Primadana
“OCTO, GURITA MERAH YANG PELIT”

Hoaaammm…
Octo masih mengantuk ketika Ibu membangunkan Octo dari tidurnya, “ayo Octo, bangun. Kamu tidak mau terlambat kan di hari pertamamu ke sekolah?”

Octo, gurita merah kecil itu hanya mengeliat dan mengubah posisi tidurnya sambil bergumam kepada ibunya, “lima menit lagi, Bu. Octo masih ngantuk.”

Ibu Octo menggeleng-gelengkan kepalanya. Octo, gurita kecilnya ini sudah dari tadi dibangunkan. Kebiasaan tidurnya yang sampai siang ini harus diubah karena Octo akan memasuki sekolah pertamanya dan tentunya akan bersekolah hampir setiap hari. Ibu Octo sudah berusaha membangunkan Octo dengan cara yang lembut, yaitu hanya mengguncangkan tubuh Octo sedikit dan menyuruhnya bangun. Tetapi sepertinya cara itu tidak mempan bagi Octo-nya, dan Octo pun selalu mengeluhkan “lima menit lagi, Bu”. Kalau sudah begini, saatnya menggunakan cara lebih keras.

“Baiklah gurita kecilku. Jika kamu memang tidak ingin sekolah, kamu bukanlah anak Ibu lagi. Silahkan kamu cari Ibu baru di luar sana!” ancam Ibu Octo. Ya, itulah cara kerasnya, hanya sebuah ancaman. Tetapi jangan salah, ancaman tersebut mampu membuat Octo bangun 100% dari tidurnya dan langsung menghadap ibunya.

“Baiklah, Ibu. Octo sudah bangun dan akan siap-siap pergi ke sekolah.” kata Octo panik. Octo memandang Ibunya dengan tatapan memelas, “Octo masih anak Ibu kan?” tanya Octo polos. “Octo tidak mau cari Ibu lain. Octo cuma sayang Ibu.” sambungnya lagi seperti ingin menangis.

Ibu Octo hanya tersenyum dan memeluk anaknya, “Iya, Octo tetap anak ibu. Tetapi harus janji, mulai sekarang Octo harus lebih rajin bangun pagi dan pergi ke sekolah. Janji?”

Octo kecil mengangguk dan menjawab, “Octo janji, Bu.”

“Sekarang Octo siap-siap ya. Karena ini hari pertama, Ibu akan menemani Octo berenang ke sekolah. Hari berikutnya Octo berenang dengan teman-teman baru Octo ya.”

“Baiklah, Bu.” Octo lalu pergi bersiap-siap untuk ke sekolah.
Hari pertama Octo pergi ke sekolah. Ternyata banyak juga yang bersekolah disini. Pasti banyak teman baru nih, pikir Octo. Hewan-hewan laut lainnya juga berenang bersama induknya masing-masing.

Ketika perkenalan di kelas, Octo memperkenalkan dirinya dengan suara yang keras, “nama saya Octo. Saya gurita merah. Saya datang ke sekolah ini bersama Ibu saya.” Seraya menunjuk Ibu nya yang sedang duduk. Teman-teman yang lain bertepuk tangan dan Octo merasa bangga akan hal itu.

Hari ini hanya perkenalan saja. Dalam waktu yang singkat Octo sudah mendapat teman baru, seperti Squid si cumi-cumi, Clam si kerang dan banyak lagi yang lain.

Hari-hari Octo, Si gurita merah kecil berlanjut. Octo mulai menikmati bersekolah. Dia termasuk hewan yang aktif dan juga cerdas di kelasnya. Setiap tugas yang diberikan oleh gurunya dapat dia selesaikan dengan mudah dan cepat. Tetapi hal tersebut membuat Octo sombong. Dia tidak mau mengajari temannya yang meminta bantuan kepadanya.

Ceritanya seperti ini. Suatu hari guru di kelas Octo memberikan latihan kepada anak didiknya untuk menyusun puzzle. Octo dengan mudahnya dapat menyusun puzzle dan dia hewan pertama yang selesai diantara teman-temannya yang lain. Squid si cumi-cumi yang tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat Octo meminta bantuannya untuk menyusun puzzle. “Octo, bantuin Squid dong nyusun puzzle nya.”

Octo berfikir sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya, “nggak mau. Itu kan mudah, masa minta bantuan Octo sih.” tolak Octo angkuh.
Begitulah, setiap ada yang meminta bantuan, Octo selalu menolaknya dengan angkuh. Lama-lama tidak ada lagi yang mau berteman dengan Octo. Mereka semua menjauhi Octo karena kepelitan Octo. Octo yang awalnya cuek, akhirnya merasa kesepian juga. Tidak ada teman yang mau berbicara dengannya. Octo juga sudah beberapa hari ini pulang sendirian ke rumahnya. Octo merasa sedih.

Ibu Octo yang melihat gurita kecilnya sedih lalu bertanya, “Octo, gurita kecil Ibu. Kamu kenapa nak, kok belakangan ini Ibu lihat kamu murung?” Octo menjawab pertanyaan ibunya sambil menunduk, “Octo tidak punya teman, Ibu.”

“Tidak punya teman? Bukankah awal-awal sekolah Octo punya banyak teman?” tanya Ibu heran. Octo mengangguk, “iya Ibu. Tetapi mereka sekarang sudah tidak mau berteman lagi dengan Octo.”

Ibu Octo hanya mengangguk, kemudian bertanya lagi, “pasti ada sesuatu yang Octo lakukan sehingga teman-teman Octo tidak mau lagi bermain bersama Octo. Coba ingat-ingat lagi, apakah Octo punya salah dengan mereka?”

Octo terdiam sejenak, berfikir sebentar. “hmm, mungkin karena Octo tidak mau membantu mereka mengerjakan tugas?” kata Octo lebih seperti pertanyaan kepada ibunya.

“Kenapa Octo tidak mau membantu mereka?” tanya Ibu lagi. Octo menatap Ibunya, “karena kalau Octo membantu mereka mengerjakan tugas, Octo takut mereka akan menjadi lebih pintar dari Octo, Ibu.”

Ibu Octo hanya tersenyum mendengar jawaban anaknya yang polos itu. Ibu Octo lalu menatap Octo dengan penuh kasih sayang dan menjelaskan, “Octo sayang. Kamu seharusnya membantu teman-teman kamu yang meminta bantuan. Memang mereka akan mendapat ilmu dengan kamu membantu mereka, dan itu berarti ilmu yang kamu punya akan bermanfaat. Bahkan dengan kamu membantu teman-teman kamu, ilmu yang kamu dapatkan akan semakin bertambah dan bahkan membuat kamu semakin pintar.”

Octo menatap Ibunya tidak percaya, “benarkah Ibu? Jadi Octo akan bertambah pintar jika Octo membantu teman-teman?”
“Benar, Octo. Jadi besok bantulah teman Octo yang terlihat kesulitan dalam mengerjakan tugas. Besok, jangan lupa juga minta maaf dengan teman-teman Octo.” Kata ibu Octo lagi. Octo mengangguk kan kepalanya dan memeluk Ibunya. “Terima kasih ibu. Octo besok mau minta maaf sama teman-teman.” Octo lalu mencium Ibunya. “Octo sayang Ibu.”

Ibu menatap Octo dan balas menciumnya, “Ibu juga sayang Octo, gurita merah kecil ibu.”

Keesokan harinya ketika Octo berenang menuju sekolahnya, Octo melihat teman-temannya berenang mendahuluinya. Octo masih malu ketika ingin menyapa teman-temannya. Nanti saja ketika di sekolah, Octo akan minta maaf dengan mereka, pikir Octo.

Ketika di sekolah, Octo masih sendiri. Dia belum berani untuk menyapa teman-temannya hingga bel tanda masuk berbunyi. Apa yang akan Octo bilang pada mereka. Kalau mereka masih marah, bagaimana?

“Baiklah, sekarang kita akan menyusun kerikil-kerikil ini sesuai dengan bentuk yang ada di papan.” Kata-kata guru membuat Octo sadar dari lamunannya. Dengan sigap dan cepat Octo langsung mengerjakan apa yang diminta gurunya. Tidak butuh waktu lama, Octo telah selasai dengan tugasnya.

Octo melirik ke arah teman-temannya. Dilihatnya Squid si cumi-cumi masih menyusun kerikil-kerikil miliknya. Akhirnya Octo memutuskan untuk menghampiri Squid. “Mau Octo bantu, Squid?” Squid agak terkejut melihat gurita merah itu di sampingnya. “Bo.. boleh kalau Octo mau bantu.” Octo dengan senang membantu Squid menyelesaikan tugasnya.

“Maafin Octo, Squid. Octo nggak mau bantu Squid ketika ngerjain tugas waktu itu.” kata Octo kepada Squid. “Iya, Octo. Udah Squid maafin kok. Sekarang kita temenan lagi ya.” jawab Squid sambil tersenyum.


Sejak saat itu hubungan Octo si gurita merah dengan teman-temannya membaik. Octo selalu membantu teman-temannya yang kesulitan mengerjakan tugas, begitupun teman-temannya yang senang dengan kebaikan hati Octo. Mereka akhirnya sering bermain bersama di dasar laut biru yang indah.

Semut Yang Hemat

By : Yusuf Aldy Primadana
“SEMUT YANG HEMAT”

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja yang sangat terkenal keadilannya. Raja tersebut sangat mencintai rakayatnya. Yang lebih istimewanya lagi Raja ini adalah seorang yang penyayang binatang. Suatu hari sang Raja pergi jalan-jalan menemui seekor Semut.

“Bagaimana kabarmu Semut?” tanya sang Raja.
“Hamba baik-baik saja, baginda.” jawaba Semut sangat gembira.
“Dari mana saja kau pergi?”
“Hamba sejak dari pagi pergi ke beberapa tempat, tetapi belum juga mendapatkan makanan baginda.”
“Jadi, sejak tadi pagi kamu belum makan?”
“Benar baginda.” Raja itu pun termenung sejenak. Kemudian berkata.

“Hai Semut. Seberapa banyak makanan yang kau butuhkan untuk dalam satu tahun?”
“Hanya sepotong roti baginda,” jawab Semut.
“Kalau begitu, maukah kau ku beri sepotong roti untuk hidupmu setahun?”
“Hamba sangat senang baginda.”
“Kalau begitu, ayo engkau ku bawa pulang ke istana,” ujar Raja tersebut.

Semut sangat gembira karena mendapatkan anugerah makanan dari sang Raja. Ia tidak susah lagi mencari makan dalam setahun. Dan tentu saja roti pemberian dari sang Raja lebih enak dan manis. “Sekarang engkau masuklah ke dalam tabung yang telah ku isi sepotng roti ini,” perintah san Raja.
“Terima kasih baginda. Hamba akan masuk.”
“Setahun yang akan datang tabung ini baru akan ku buka,” ujar sang Raja lagi.
“Hamba sangat gembira baginda.”

Tabung berisi roti dan Semut itu pun segera ditutup rapat oleh sang Raja. Tutup tabung itu terbuat dari bahan khusus, sehingga udara tetap masuk di dalam tabung. Tabung tersebut disimpan di tempat khusus di dalam istana. Hari-hari berikutnya sang Raja tetap memimpin rakyatnya. Berbagai urusan ia selesaikan secara bijaksana. Akhirnya, setelah genap setahun, teringatlah sang Raja akan janjinya pada sang Semut. Perlahan-lahan sang Raja membuka tutup tabung berisi Semut itu. Ketika tutup tabung terbuka, si Semut baru saja menikmati roti pemberian Raja setahun yang lalu.

“Bagaimana kabarmu Semut?” tanya sang Raja ketika matanta melihat Semut di dalam tabung.
“Keadaan hamba baik-baik saja baginda.”
“Tdak pernakah kau sakit dalam setahun di dalam tabung ini?”
“Tidak baginda, selama setahun hamba tidak pernah sakit.”
Kemudian sang Raja termenung sejenak sambil melihat sisa roti milik Semut tersebut.

“Mengapa roti pemberianku tidak kau habiskan sedangkan dalam setahun kau hanya memerlukan sepotong roti?” tanya sang Raja. “Begini baginda, roti itu memang hamba sisakan separuh. Sebab hamba khawatir jangan-jangan, baginda lupa membukanya, tentu saja hamba masih bisa makan roti setahun lagi. Tapi untunglah baginda tidak lupa membuka tutup tabung ini. Hamba sangat senang sekali baginda.” sang Raja sangat terkejut sekali mendengar penjelasan sang Semut yang tahu hidup hemat.

Sang Raja pun tersenyum kecil melihat Semut tersebut. “Kau adalah Semut yang hebat, kau dapat menghemat kebutuhanmu. Hali ini akan ku siarkan ke seluruh negeri, agar rakyat-rakyatku dapat mencontohmu. Kalau Semut saja dapat menghemat, mengapa manusia justru hidup boros?”

“Sebaiknya baginda jangan terlalu memuji hamba,” jawab si Semut. Semut itu akhirnya mendapat hadiah lagi dari sang Raja. Sebagai tanda terima kasih karena telah mengajarinya tanda hidup hemat.

- Copyright © Bahasa Indonesia - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -